Gejala dan Penyebab Keratitis Akantamuba

Gejala dan Penyebab Keratitis AkantamubaKeratitis Akantamuba adalah infeksi yang terjadi pada kornea sehingga bisa menyebabkan kerusakan atau kebutaan permanen jika tidak segera disembuhkan.

Meskipun penyakit Keratitis Akantamuba merupakan penyakit yang langka namun setiap orang berpotensi menderita penyakit ini utamanya pada individu yang menggunakan lensa kontak.

Lalu apa sesungguhnya penyakit langka ini? Apa penyebabnya dan bagaimana gejalanya? berikut ini pembahasannya.

Penyebab utama Keratitis Akantamuba adalah karena terinfeksi oleh mikroorganisme ubiquitious atau amuba. Organisme sel tunggal ini ditemukan di air, udara, dan tanah, dan tidak memerlukan perantara untuk menginfeksi manusia.

Tapi mengapa pengguna lensa kontak dianggap sebagai individu yang rentan terhadap penyakit ini? Jawabannya cukup sederhana dimana pengguna lensa kontak yang kurang memperhatikan kesehatan mereka atau pengguna yang kurang terlatih tentang bagaimana memperlakukan lensa kontak mereka secara higienis.

Penyakit Keratitis Akantamuba ini sama seperti beberapa penyakit pada umumnya yakni menimbulkan beberapa gejala seperti rasa nyeri pada matai, penglihatan kabur dan sangat peka terhadap cahaya (photopobia). Gejala ini biasanya dapat berlangsung selama beberapa bulan.

Pada gejala khas lainnya mirip dengan infeksi mata pada umumnya seperti mata nampak kemerahan dan terasa ada benda asing dibalik kelopak mata.

Nah, ketika gejala ini dirasakan atau dialami oleh pasien maka disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter mereka untuk memulai pengobatan sebelum terlambat karena dapat menyebabkan kerusakan yang berlebihan pada permukaan kornea.

Cara mendiagnosa penyakit Keratitis Akantamuba dengan memeriksa Scraping fro mata yang terkena. Setelah diagnosa menunjukkan hasil positif maka pengobatan penyakit Keratitis Akantamuba baru dapat dimulai.

Alat untuk mendiagnosa penyakit ini dengan menggunakan mikroskop confocal in vivo sebagai cara atau pilihan non-invasif. Diagnosis memiliki spesifisitas ~ 90%. Jika gambar yang dihasilkan berkualitas baik maka identifikasi Keratitis Akantamuba pada tahap dini bisa didapatkan.

Teknik lain yang memiliki tingkat spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi amuba ini adalah amplifikasi dari bahan genom dari amuba menggunakan tes PCR (polymerase chain reaction). Teknik ini memberikan tingkat spesifisitas yang tinggi dan mendekati anka 100%. Namun, teknik ini sangat mahal biayanya dan tidak secara luas digunakan di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Untuk mengobati penyakit Keratitis Akantamuba tergantung dari tingkat keparahan infeksi, tapi ada beberapa prosedur yang harus dilakukan oleh ahli medis sebelum menetapkan cara pengobatan yang tepat terhadapnya.

Keratitis Akantamuba dapat diobati dengan obat-obatan tapi jika infeksinya sudah memasuki tahap yang sangat serius mungkin memerlukan pembedahan.

Keratitis Akantamuba harus segera ditangani pada awal- awal gejala. Pengobatan yang dimulai dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah terinfeksi dapat mencegah kerusakan permanen pada kornea dan penyelamatan visi pasien.

Penggunaan obat antiseptik topikal seperti chlorhexidine (0,02%) atau biguanide polyhexamtheylene (0,02%), sering dalam kombinasi dengan propamidine atau hexamidine bisa digunakan dengan rejimen pengobatan dari 6 bulan sampai satu tahun.

Pengobatan lainnya yaitu dengan menggunakan obat antiseptik. Obat penghilang rasa sakit seperti obat oral nonsteroid atau solusi cyclopegic yang sementara melumpuhkan otot mata juga dapat diberikan.

Pada kondisi yang sangat parah terpaksa harus menempuh prosedur bedah yang disebut keratoplasty (atau penggantian kornea) dilakukan untuk meningkatkan dan mengembalikan penglihatan ketika Keratitis Akantamuba menembus lapisan stroma kornea.