Jenis-Jenis Obat Batuk Dan Pilek

Jenis-Jenis Obat Batuk Dan PilekObat batuk dan pilek terbaik adalah obat yang bisa meredakan batuk dan mengurangi lendir atau dahak yang berlebihan karena pilek atau influenza dan tanpa menimbulkan efek yang merugikan kesehatan secara keseluruhan.

Seringkali kita membeli obat tanpa resep dokter (OTC) ketika kita terserang batuk atau pilek namun sesungguhnya obat OTC ini belum tentu aman kita konsumsi tanpa aturan yang dianjurkan.

Jenis-jenis obat batuk dan pilek tanpa resep dokter sendiri sangat banyak jenisnya dan untuk mengetahui jenis- obat batuk dan pilek tersebut akan dibahas dibawah ini.

Jenis-Jenis Obat Batuk dan Pilek

• Antihistamin

Antihistamin adalah obat yang digunakan untuk memerangi berbagai jenis alergi seperti demam, rhinitis alergi, antara lain. Mereka juga memainkan peran utama adalah meredakan gejala tertentu yang umum batuk disertai pilek.

Obat anti histamin sendiri terdiri dari dua jenis yakni antihistamin generasi pertama (Brompheniramine, Chlorpheniramine, Diphenhydramine) dan antihistamin generasi kedua (Cetirizine, Loratadin, Fexofenadine).

Antihistamin generasi pertama seperti chlorpheniramine dan diphenhydramine menunjukkan gejala mengantuk dan digunakan untuk menyembuhkan pilek yang terkait dengan kondisi badan yang menggigil.

Namun antihistamin generasi pertama ini memiliki efek samping yang lebih dibandingkan dengan generasi kedua karena mereka cenderung mempengaruhi motorik, menyebabkan mata dan mulut kering dan bersama dengan sakit kepala.

Dengan kata lain bahwa antihistamin generasi kedua seperti cetirizine dan loratadine biasanya dianjurkan karena mereka tidak memiliki efek samping yang merugikan.

• Dekongestan

Dekongestan adalah obat yang mempersempit pembuluh darah pada hidung, tenggorokan dan sinus. Hal ini dapat mengurangi pembengkakan di saluran hidung sehingga melegakan hidung tersumbat.

Obat dekongestan tersedia dalam bentuk tablet atau semprotan hidung. Obat dekongestan ini digunakan individu yang mengalami gejala pilek dan batuk, demam, sinusitis atau flu.

Namun, penyempitan pembuluh darah untuk meringankan penyumbatan hidung dapat meningkatkan tekanan darah orang yang menderita hipertensi.

Beberapa jenis merek obat dekongestan ini seperti Efedrin, Fenilefrin, Pseudoephedrine. Dan umumnya obat Dekongestan tidak dianjurkan untuk wanita hamil, pasien hipertensi dan anak-anak dibawah 12 tahun.

Efek samping penggunaan dekongestan dalam bentuk ringan seperti sakit kepala, mulut kering dan kelelahan dan gangguan tidur.

• Antitusif

Antitusif adalah obat untuk meredakan batuk yang dipasaran dikenal dalam dua jenis yaitu antitusif narkotika dan antitusif non-narkotika.

Antitusif narkotika seperti Codeine, Dihydrocodeine, Hydrocodone. Sementara antitusif non-narkotika diantaranya adalah Carbetapentane, Caramiphen, Dekstrometorfan.

Tapi obat batuk antitusif yang paling umum digunakan adalah Kodein dan Dekstrometorfan. Kodein digunakan sebagai penekan batuk yang jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat hanya memiliki efek ringan seperti muntah, sakit kepala, mengantuk, dan mual yang akan hilang dengan sendirinya setelah berhenti mengkonsumsinya.

Untuk obat Dekstrometorfan (antitusif non-narkotika tetapi dapat menyebabkan efek samping yang merugikan ketika dikonsumsi secara berlebihan. Efek sampingnya termasuk halusinasi, keringat berlebihan, muntah atau penglihatan menjadi kabur.

• Ekspektoran

Ekspektoran merupakan obat yang merangsang pengeluaran dahak atau lendir yang mungkin menyebabkan batuk.
Obat ekspektoran ini termasuk Guaifenesin, Eucalyptus, Kalium iodida. Namun diantara obat tersebut, guaifenesin adalah ekspektoran yang paling umum dan penting yang digunakan dalam mengobati batuk.

• Analgesik

Obat analgesik umumnya dikenal sebagai obat penghilang rasa nyeri namun analgesik ini juga membantu dalam mengurangi rasa sakit dan nyeri lainnya yang terkait dengan pilek dan batuk. Obat-obatan analgesik ini termasuk Aspirin, Acetaminophen, Ibuprofen dan Naproxen.

Tapi perlu di ingat bahwa mengkonsumsi dalam jumlah yang berlebihan atau ketika digunakan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan dan menyebabkan kanker ginjal.

Anak-anak di bawah usia 4 tahun dan anak usia remaja jika mengkonsumsi obat tersebut dapat menyebabkan sindrom Reye.